Jumat, 11 Maret 2016

Jadi Wartawan, Prita Laura: Bagian dari Suara Hati

"Menjadi seorang jurnalis adalah sebuah profesi yang mulia. Melalui profesi ini, karya kita dapat memberikan dampak bagi banyak orang,"kata News Anchors MetroTV, Prita Laura.


Awal mula Prita Laura mengenal dunia jurnalistik ketika masih di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Wanita yang lebih akrab dipanggil Lulu itu tertarik sekali dengan bidang ekstra kulikuler media siswa di SMA 8, Jakarta pada tahun 1986.

Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan senang memberikan manfaat kepada orang banyak melalui tulisan, Lulu akhirnya memutuskan untuk terus menekuni dunia jurnalistik.

"Saya pikir asyik banget bisa terjun ke dunia jurnalistik waktu itu. Sebab tulisan yang saya  buat bisa memberikan dampak kepada banyak orang," kata Prita ketika ditemui di di Lobby Metro TV, jalan Pilar Mas Raya Kav. A-D , Kedoya, Kebon Jeruk, 6 Juli 2015.

Setelah lulus SMA, Lulu memilih melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Indonesia, Depok pada tahun 1998. Ia mengambil jurusan Hukum Internasional. Meski ia mengambil jurusan hukum, namun rasa cintanya terhadap bidang jurnalistik masih tetap bertumbuh.
Terbukti ketika memasuki semester lima, Lulu mendapat kesempatan bekerja di salah satu radio terkemuka di Indonesia, Radio Sanggar Prathivi (Penggemar Radio, Teater, Film dan Televisi).

Karena berlatar belakang hukum, Prita diminta untuk membuatkan drama tentang penyuluhan hukum. Dari pekerjaan yang sudah ia lakukan ternyata memetik sebuah pengalaman berharga.

"Dari sini, saya mulai belajar, ternyata saya menyenangi satu hal di sana. Meski saya dibayar kecil tapi karyaku bisa memberikan dampak bagi orang lain. Rasanya senang sekali karyaku bisa didengar di desa-desa yang tak tahu hukum," ucapnya.

Setelah berhasil menyandang gelar sarjana Hukum Internasional pada 2002, Wanita kelahiran Klaten, 26 Juni 1978 mengambil pekerjaan sebagai pengacara di salah satu Lembaga Bantuan Hukum di Jakarta.

“Saya mulai nyaman bekerja sebagai pengacara. Selain mendapat gaji yang lumayan besar, Pimpinan saya juga sudah mulai menaruh kepercayaan kepada saya untuk menyelesaikan masalah-masalah hukum yang dianggap cukup berat,” ucapnya.

Namun  Lulu  mulai menyadari tentang hasratnya sebagai jurnalis yang sudah lama terkubur. Rasa cintanya mulai tumbuh kembali saat membaca sebuah novel berjudul 'Permainan Cantik' karya Jeffrey Rachmat di salah satu toko buku di Jakarta Selatan.

"Ada sebuah kalimat yang membuka mata saya. Isinya seperti ini, Tuhan bukan pencipta yang jahil. Bila manusia menciptakan sesuatu pasti punya tujuan, apalagi Tuhan," tuturnya.

"Suatu benda akan berfungsi maksimal bila kita dipakai sesuai dengan tujuan si Pencipta. Cara mengetahuinya dari kekuatan apa yang kau miliki dan passionmu. Aku tertarik sebagai pengacara, tetapi aku ingat bahwa aku senang bila melakukan pekerjaan yang memiliki dampak bagi orang lain," lanjutnya.

Seiring waktu berjalan, Lulu mulai teringat dengan hasratnya di dunia jurnalistik ketika masih di bangku SMA. Keinginannya untuk menjadi seorang wartawati semakin kuat, ketika ia mulai tidak betah dengan bidang pekerjaanya sebagai pengacara.

“Menjadi seorang pengacara itu banyak sekali godaan. Terlebih lagi, kalau bertemu dengan klien yang sebenarnya bertentangan dengan suara hati,” kata Prita.

Awal mula memilih jadi jurnalis Metro TV

Setelah memutuskan keluar sebagai pengacara, Prita akhirnya mencari pekerjaan baru. Awalnya, ia tertarik ingin menjadi wartawan Tempo. Namun ia malah melamar di Metrotv setelah mendapat informasi dari teman lamanya. Prita pun berhasil masuk menjadi karyawan Metrotv pada tahun 2004.

“Dulu waktu mengikuti tes, aku ditawarkan untuk mengisi posisi presenter TV. Sebenarnya saku kurang percaya diri karena banyak sekali kandidat yang melamar di Metrotv. Dari puluhan peserta, aku terpilih menjadi salah satu presenter TV,” celotehnya.

Untuk pertama kalinya terjun di dunia nyata, Prita kesulitan untuk menjadi seorang presenter TV. Kritikan pedas ketika meliput banyak orang itu sudah menjadi makanan sehari-harinya. Seiring waktu berjalan, Prita menjadi terbiasa menerima kritikan-kritikan dari internal maupun di eksternal.

Bagi Prita, kenangan yang tak pernah terlupakan saat meliput insiden terbakar kapal Levina I di teluk Tanjung Priok pada 22 Februari 2007. Insiden tersebut menewaskan tujuh orang termasuk dua wartawan TV yang tengah meliput.

"Aku harus liputan untuk acara Metro Hari Ini (MHI) pada Pk 18.00. Saat datang ke lokasi, Tim Sar angkat kaki dari tempat tujuan karena situasi yang tidak memungkinkan untuk penyelamatan," kata Prita.

Karena dikejar tayang televisi, Prita harus tetap meliput. Ia pun mencoba meminta bantuan kepada guru diving, Cipto Aji untuk meminta saran agar bisa turun ke bawah laut. Setelah disetujui oleh Aji, Prita pun langsung melanjutkan liputannya di bawah laut.

Setelah meliput, Prita mendapat teguran dari berbagai pihak. Salah satu Tim Sar menegurnya karena sudah melewati batas aman dari lokasi kejadian, sementara pihak produser Metrotv memarahinya karena penampilan Prita di layar kaca sangat buruk.

Meski demikian, Prita tetap bangga menjadi seorang jurnalis. Menurutnya, tidak ada satu pun pekerjaan sebanyak pengalaman seorang jurnalis.

" Pengalaman Jurnalis luas banget. Kalau seorang arsitek, tugasnya hanya arsitek, seorang teller bank yang tugasnya hanya di Bank saja. Tetapi beda dengan jurnalis," kata Prita.

Prita pun memberikan pesan kepada setiap orang yang ingin terjun ke dunia jurnalistik. Ia menilai sebagai pertanyaan seorang jurnalis akan semakin tajam bila jurnalis memiliki pengetahuan yang cukup luas. Selain itu sebagai seorang jurnalis itu harus menganggap belajar adalah sesuatu yang harus dinikmati.


"Ketika pagi, saya harus membaca koran minimal lima koran yang berbeda. Lalu pada malam hari, aku membuka internet tentang dampak dari Yunani. Buat suami aku itu adalah suatu yang berat, tetapi buat kami seorang jurnalis adalah konsumsi harian. Aku sangat menikmati dengan profesiku yang saat ini, "tutupnya.

* Tulisan ini murni hasil wawancara penulis. Penulis tidak membuat rekayasa dalam membuat artikel ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar