"Menjadi
seorang jurnalis adalah sebuah profesi yang mulia. Melalui profesi ini, karya
kita dapat memberikan dampak bagi banyak orang,"kata News Anchors MetroTV,
Prita Laura.
Awal mula Prita Laura mengenal dunia
jurnalistik ketika masih di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Wanita yang lebih
akrab dipanggil Lulu itu tertarik sekali dengan bidang ekstra kulikuler media
siswa di SMA 8, Jakarta pada tahun 1986.
Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi
dan senang memberikan manfaat kepada orang banyak melalui tulisan, Lulu akhirnya
memutuskan untuk terus menekuni dunia jurnalistik.
"Saya pikir asyik banget bisa
terjun ke dunia jurnalistik waktu itu. Sebab tulisan yang saya buat bisa memberikan dampak kepada banyak
orang," kata Prita ketika ditemui di di Lobby Metro TV, jalan Pilar Mas
Raya Kav. A-D , Kedoya, Kebon Jeruk, 6 Juli 2015.
Setelah lulus SMA, Lulu memilih
melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Indonesia, Depok pada tahun 1998.
Ia mengambil jurusan Hukum Internasional. Meski ia mengambil jurusan hukum,
namun rasa cintanya terhadap bidang jurnalistik masih tetap bertumbuh.
Terbukti ketika memasuki semester
lima, Lulu mendapat kesempatan bekerja di salah satu radio terkemuka di
Indonesia, Radio Sanggar Prathivi (Penggemar Radio, Teater, Film dan Televisi).
Karena berlatar belakang hukum, Prita
diminta untuk membuatkan drama tentang penyuluhan hukum. Dari pekerjaan yang
sudah ia lakukan ternyata memetik sebuah pengalaman berharga.
"Dari sini, saya mulai belajar,
ternyata saya menyenangi satu hal di sana. Meski saya dibayar kecil tapi
karyaku bisa memberikan dampak bagi orang lain. Rasanya senang sekali karyaku
bisa didengar di desa-desa yang tak tahu hukum," ucapnya.
Setelah berhasil menyandang gelar
sarjana Hukum Internasional pada 2002, Wanita kelahiran Klaten, 26 Juni 1978
mengambil pekerjaan sebagai pengacara di salah satu Lembaga Bantuan Hukum di
Jakarta.
“Saya mulai nyaman bekerja sebagai
pengacara. Selain mendapat gaji yang lumayan besar, Pimpinan saya juga sudah
mulai menaruh kepercayaan kepada saya untuk menyelesaikan masalah-masalah hukum
yang dianggap cukup berat,” ucapnya.
Namun
Lulu mulai menyadari tentang
hasratnya sebagai jurnalis yang sudah lama terkubur. Rasa cintanya mulai tumbuh
kembali saat membaca sebuah novel berjudul 'Permainan Cantik' karya
Jeffrey Rachmat di salah satu toko buku di Jakarta Selatan.
"Ada sebuah kalimat yang membuka
mata saya. Isinya seperti ini, Tuhan
bukan pencipta yang jahil. Bila manusia menciptakan sesuatu pasti punya tujuan,
apalagi Tuhan," tuturnya.
"Suatu benda akan berfungsi maksimal bila kita dipakai sesuai dengan
tujuan si Pencipta. Cara mengetahuinya dari kekuatan apa yang kau miliki dan passionmu.
Aku tertarik sebagai pengacara, tetapi aku ingat bahwa aku senang bila
melakukan pekerjaan yang memiliki dampak bagi orang lain," lanjutnya.
Seiring waktu berjalan, Lulu mulai
teringat dengan hasratnya di dunia jurnalistik ketika masih di bangku SMA.
Keinginannya untuk menjadi seorang wartawati semakin kuat, ketika ia mulai
tidak betah dengan bidang pekerjaanya sebagai pengacara.
“Menjadi seorang pengacara itu banyak
sekali godaan. Terlebih lagi, kalau bertemu dengan klien yang sebenarnya bertentangan
dengan suara hati,” kata Prita.
Awal
mula memilih jadi jurnalis Metro TV
Setelah memutuskan keluar sebagai
pengacara, Prita akhirnya mencari pekerjaan baru. Awalnya, ia tertarik ingin
menjadi wartawan Tempo. Namun ia malah melamar di Metrotv setelah mendapat
informasi dari teman lamanya. Prita pun berhasil masuk menjadi karyawan Metrotv
pada tahun 2004.
“Dulu waktu mengikuti tes, aku
ditawarkan untuk mengisi posisi presenter TV. Sebenarnya saku kurang percaya
diri karena banyak sekali kandidat yang melamar di Metrotv. Dari puluhan
peserta, aku terpilih menjadi salah satu presenter TV,” celotehnya.
Untuk pertama kalinya terjun di dunia
nyata, Prita kesulitan untuk menjadi seorang presenter TV. Kritikan pedas
ketika meliput banyak orang itu sudah menjadi makanan sehari-harinya. Seiring waktu
berjalan, Prita menjadi terbiasa menerima kritikan-kritikan dari internal
maupun di eksternal.
Bagi Prita, kenangan yang tak pernah
terlupakan saat meliput insiden terbakar kapal Levina I di teluk Tanjung Priok
pada 22 Februari 2007. Insiden tersebut menewaskan tujuh orang termasuk dua wartawan
TV yang tengah meliput.
"Aku harus liputan untuk acara Metro
Hari Ini (MHI) pada Pk 18.00. Saat datang ke lokasi, Tim Sar angkat kaki dari
tempat tujuan karena situasi yang tidak memungkinkan untuk penyelamatan,"
kata Prita.
Karena dikejar tayang televisi, Prita harus
tetap meliput. Ia pun mencoba meminta bantuan kepada guru diving, Cipto Aji
untuk meminta saran agar bisa turun ke bawah laut. Setelah disetujui oleh Aji,
Prita pun langsung melanjutkan liputannya di bawah laut.
Setelah meliput, Prita mendapat
teguran dari berbagai pihak. Salah satu Tim Sar menegurnya karena sudah
melewati batas aman dari lokasi kejadian, sementara pihak produser Metrotv
memarahinya karena penampilan Prita di layar kaca sangat buruk.
Meski demikian, Prita tetap bangga
menjadi seorang jurnalis. Menurutnya, tidak ada satu pun pekerjaan sebanyak
pengalaman seorang jurnalis.
" Pengalaman Jurnalis luas
banget. Kalau seorang arsitek, tugasnya hanya arsitek, seorang teller bank yang
tugasnya hanya di Bank saja. Tetapi beda dengan jurnalis," kata Prita.
Prita pun memberikan pesan kepada
setiap orang yang ingin terjun ke dunia jurnalistik. Ia menilai sebagai
pertanyaan seorang jurnalis akan semakin tajam bila jurnalis memiliki pengetahuan
yang cukup luas. Selain itu sebagai seorang jurnalis itu harus menganggap
belajar adalah sesuatu yang harus dinikmati.
"Ketika
pagi, saya harus membaca koran minimal lima koran yang berbeda. Lalu pada malam
hari, aku membuka internet tentang dampak dari Yunani. Buat suami aku itu
adalah suatu yang berat, tetapi buat kami seorang jurnalis adalah konsumsi
harian. Aku sangat menikmati dengan profesiku yang saat ini, "tutupnya.
* Tulisan ini
murni hasil wawancara penulis. Penulis tidak membuat rekayasa dalam membuat
artikel ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar