Jumat, 18 Maret 2016

Kisruh Pemilihan Gubernur DKI Jakarta

Media sosial (medsos) berfungsi sebagai media untuk berbagi, memperbanyak teman, dan menjalin hubungan dengan teman. Medsos kini menjadi media terfavorit untuk saat ini. Dari berbagai medsos terpopuler, salah satunya adalah Facebook (FB).
Melalui beranda FB, kita bisa mengetahui berbagai informasi yang dibagikan netizen. Terlebih FB menjadi salah satu sarana penting dalam membentuk sebuah opini masyarakat.
Untuk saat ini, DKI Jakarta akan mengadakan pemilihan Gubernur Jakarta yang baru pada tahun depan. Acara yang diadakan selama lima tahun sekali itu sudah menjadi perbincangan topik terhangat di seluruh kalangan masyarakat, khususnya penduduk Jakarta.
Bukti bahwa pemilihan Gubernur tengah hangat diperbincangkan itu bisa dilihat dari beranda FB. Tak hanya kalangan tua saja, tetapi kalangan muda juga turut andil dalam mengikuti demokrasi di DKI Jakarta.
Bagaikan bermain bola panas, mereka memberikan opini dalam bentuk tulisan, meme maupun sindiran sindiran yang berbau rasisme seperti suku dan agama.
Namun itu semua sudah menjadi bagian demokrasi di negeri ini.
Semoga panasnya politik di Jakarta itu hanya bagaikan bumbu politik saja. Isu tersebut tidak memicu konflik. Sebab bangsa Indonesia sudah diikat dengan azas Pancasila.
Hingga tiba waktunya, semoga pemilihan Gubernur DKI Jakarta yang baru berjalan dengan baik, lancar dan damai. Karena yang kita ketahui bersama, bangsa Indonesia memiliki toleransi dan jiwa sosial yang tinggi.

Jumat, 11 Maret 2016

Jadi Wartawan, Prita Laura: Bagian dari Suara Hati

"Menjadi seorang jurnalis adalah sebuah profesi yang mulia. Melalui profesi ini, karya kita dapat memberikan dampak bagi banyak orang,"kata News Anchors MetroTV, Prita Laura.


Awal mula Prita Laura mengenal dunia jurnalistik ketika masih di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Wanita yang lebih akrab dipanggil Lulu itu tertarik sekali dengan bidang ekstra kulikuler media siswa di SMA 8, Jakarta pada tahun 1986.

Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan senang memberikan manfaat kepada orang banyak melalui tulisan, Lulu akhirnya memutuskan untuk terus menekuni dunia jurnalistik.

"Saya pikir asyik banget bisa terjun ke dunia jurnalistik waktu itu. Sebab tulisan yang saya  buat bisa memberikan dampak kepada banyak orang," kata Prita ketika ditemui di di Lobby Metro TV, jalan Pilar Mas Raya Kav. A-D , Kedoya, Kebon Jeruk, 6 Juli 2015.

Setelah lulus SMA, Lulu memilih melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Indonesia, Depok pada tahun 1998. Ia mengambil jurusan Hukum Internasional. Meski ia mengambil jurusan hukum, namun rasa cintanya terhadap bidang jurnalistik masih tetap bertumbuh.
Terbukti ketika memasuki semester lima, Lulu mendapat kesempatan bekerja di salah satu radio terkemuka di Indonesia, Radio Sanggar Prathivi (Penggemar Radio, Teater, Film dan Televisi).

Karena berlatar belakang hukum, Prita diminta untuk membuatkan drama tentang penyuluhan hukum. Dari pekerjaan yang sudah ia lakukan ternyata memetik sebuah pengalaman berharga.

"Dari sini, saya mulai belajar, ternyata saya menyenangi satu hal di sana. Meski saya dibayar kecil tapi karyaku bisa memberikan dampak bagi orang lain. Rasanya senang sekali karyaku bisa didengar di desa-desa yang tak tahu hukum," ucapnya.

Setelah berhasil menyandang gelar sarjana Hukum Internasional pada 2002, Wanita kelahiran Klaten, 26 Juni 1978 mengambil pekerjaan sebagai pengacara di salah satu Lembaga Bantuan Hukum di Jakarta.

“Saya mulai nyaman bekerja sebagai pengacara. Selain mendapat gaji yang lumayan besar, Pimpinan saya juga sudah mulai menaruh kepercayaan kepada saya untuk menyelesaikan masalah-masalah hukum yang dianggap cukup berat,” ucapnya.

Namun  Lulu  mulai menyadari tentang hasratnya sebagai jurnalis yang sudah lama terkubur. Rasa cintanya mulai tumbuh kembali saat membaca sebuah novel berjudul 'Permainan Cantik' karya Jeffrey Rachmat di salah satu toko buku di Jakarta Selatan.

"Ada sebuah kalimat yang membuka mata saya. Isinya seperti ini, Tuhan bukan pencipta yang jahil. Bila manusia menciptakan sesuatu pasti punya tujuan, apalagi Tuhan," tuturnya.

"Suatu benda akan berfungsi maksimal bila kita dipakai sesuai dengan tujuan si Pencipta. Cara mengetahuinya dari kekuatan apa yang kau miliki dan passionmu. Aku tertarik sebagai pengacara, tetapi aku ingat bahwa aku senang bila melakukan pekerjaan yang memiliki dampak bagi orang lain," lanjutnya.

Seiring waktu berjalan, Lulu mulai teringat dengan hasratnya di dunia jurnalistik ketika masih di bangku SMA. Keinginannya untuk menjadi seorang wartawati semakin kuat, ketika ia mulai tidak betah dengan bidang pekerjaanya sebagai pengacara.

“Menjadi seorang pengacara itu banyak sekali godaan. Terlebih lagi, kalau bertemu dengan klien yang sebenarnya bertentangan dengan suara hati,” kata Prita.

Awal mula memilih jadi jurnalis Metro TV

Setelah memutuskan keluar sebagai pengacara, Prita akhirnya mencari pekerjaan baru. Awalnya, ia tertarik ingin menjadi wartawan Tempo. Namun ia malah melamar di Metrotv setelah mendapat informasi dari teman lamanya. Prita pun berhasil masuk menjadi karyawan Metrotv pada tahun 2004.

“Dulu waktu mengikuti tes, aku ditawarkan untuk mengisi posisi presenter TV. Sebenarnya saku kurang percaya diri karena banyak sekali kandidat yang melamar di Metrotv. Dari puluhan peserta, aku terpilih menjadi salah satu presenter TV,” celotehnya.

Untuk pertama kalinya terjun di dunia nyata, Prita kesulitan untuk menjadi seorang presenter TV. Kritikan pedas ketika meliput banyak orang itu sudah menjadi makanan sehari-harinya. Seiring waktu berjalan, Prita menjadi terbiasa menerima kritikan-kritikan dari internal maupun di eksternal.

Bagi Prita, kenangan yang tak pernah terlupakan saat meliput insiden terbakar kapal Levina I di teluk Tanjung Priok pada 22 Februari 2007. Insiden tersebut menewaskan tujuh orang termasuk dua wartawan TV yang tengah meliput.

"Aku harus liputan untuk acara Metro Hari Ini (MHI) pada Pk 18.00. Saat datang ke lokasi, Tim Sar angkat kaki dari tempat tujuan karena situasi yang tidak memungkinkan untuk penyelamatan," kata Prita.

Karena dikejar tayang televisi, Prita harus tetap meliput. Ia pun mencoba meminta bantuan kepada guru diving, Cipto Aji untuk meminta saran agar bisa turun ke bawah laut. Setelah disetujui oleh Aji, Prita pun langsung melanjutkan liputannya di bawah laut.

Setelah meliput, Prita mendapat teguran dari berbagai pihak. Salah satu Tim Sar menegurnya karena sudah melewati batas aman dari lokasi kejadian, sementara pihak produser Metrotv memarahinya karena penampilan Prita di layar kaca sangat buruk.

Meski demikian, Prita tetap bangga menjadi seorang jurnalis. Menurutnya, tidak ada satu pun pekerjaan sebanyak pengalaman seorang jurnalis.

" Pengalaman Jurnalis luas banget. Kalau seorang arsitek, tugasnya hanya arsitek, seorang teller bank yang tugasnya hanya di Bank saja. Tetapi beda dengan jurnalis," kata Prita.

Prita pun memberikan pesan kepada setiap orang yang ingin terjun ke dunia jurnalistik. Ia menilai sebagai pertanyaan seorang jurnalis akan semakin tajam bila jurnalis memiliki pengetahuan yang cukup luas. Selain itu sebagai seorang jurnalis itu harus menganggap belajar adalah sesuatu yang harus dinikmati.


"Ketika pagi, saya harus membaca koran minimal lima koran yang berbeda. Lalu pada malam hari, aku membuka internet tentang dampak dari Yunani. Buat suami aku itu adalah suatu yang berat, tetapi buat kami seorang jurnalis adalah konsumsi harian. Aku sangat menikmati dengan profesiku yang saat ini, "tutupnya.

* Tulisan ini murni hasil wawancara penulis. Penulis tidak membuat rekayasa dalam membuat artikel ini.

Rabu, 09 Maret 2016

Kisah Pilu Pedagang Baso Malang



Berjualan di halaman Indomaret, kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat, Ahmad Affandi (43) sibuk melayani para pembeli. Meski terlihat jelas benjolan di lehernya, pria yang lebih dikenal Affandi tidak merasa malu dan tetap menyajikan baso khas Malang kepada para pembelinya.
Affandi mengidap penyakit kelenjar tiroid atau yang lebih dikenal dengan kelenjar gondok itu selama tujuh tahun. Karena keterbatasan biaya, ia menghiraukan masalah penyakitnya dan memilih untuk terus berjualan baso selama tujuh tahun di Pasar Baru.  
Ia sudah mencoba berobat di klinik  kawasan Cempaka Baru, Kemayoran. Namun hasilnya jauh dari harapan.
“Saya sudah ikut lab dan rontgen tiga kali. Sekali rontgen 500 ribu. Tapi dokter saranin saya harus ikut operasi”.
Ia pun mendapat rujukan dari dokter untuk mengikuti BPJS. Pria berkulit coklat itu seketika menghela napas. Ia sadar bahwa dirinya memiliki kendala ketika mengikuti persyaratan BPJS di rumah sakit.
“Saya sudah coba urus. Katanya butuhnya fotocopy Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK). Namun KK saya tidak bisa karena masih KK yang lama”.
Untuk saat ini, Bapak yang memakai baju garis-garis dan celana hitam itu hidup bersama adiknya di kontrakannya yang terletak di Harapan Mulia 4, di kawasan kemayoran, Jakarta Pusat.  Ia mengaku sudah lama hidup berpisah dengan mantan istrinya selama 15 tahun. Karena kedua puteri dari mantan istrinya sudah berkeluarga, mereka memilih untuk ikut suami.
Affandi berharap ada orang yang bisa memberikan bantuannya berupa jalan keluar mengenai masalah penyakit yang diidapnya.
“Semoga saja ada orang yang mau membantu saya”.
Bila Anda bersedia untuk memberikan bantuan kepadanya. Anda bisa menghubungi langsung kepada Affandi. Nomor Affandi 085335600085. Setiap hari, ia berjualan di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat.

(Informasi ini tidak direkayasa. Bila Anda tidak percaya, Anda bisa langsung cek di tempat). 

Selasa, 08 Maret 2016

"Buat Apa Kuliah, Kalau Nambah Pengangguran ?"


Beberapa hari yang lalu, teman saya bercerita tentang nasib dirinya. Ia mengatakan bahwa kuliah itu tidak menjamin kalau kita bisa mendapat pekerjaan yang sesuai. Ia sendiri baru lulus kuliah tahun kemarin, namun hingga kini ia belum bekerja. Sudah tiga bulan, ia mencari lowongan pekerjaan.
Ia pun mendapat cibiran dari teman-teman kecilnya. Pernyataannya seperti ini " Buat apa kuliah, kalau nambah pengangguran. Sudah banyak orang-orang yang tidak melalui bangku kuliah itu bisa sukses".
Menurut saya pernyataan itu tentu bisa menjatuhkan mental teman saya. Namun saya berpandangan bahwa tidak harus kita menunggu mendapat tawaran pekerjaan. Kita harus dituntut aktif dengan melakukan berbagai hal yang bisa mendapatkan uang halal.
Coba tengok, sudah berapa banyak pengangguran S1 di Indonesia. Seperti yang diberitakan CNN, sektor ketenagakerjaan Indonesia semakin melambat pada tahun lalu. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pengangguran naik 300 ribu jiwa pada Februari 2015. 

Berdasarkan data BPS, Strata satu (S1) pada Februari 2015 menjadi 5,34 persen ketimbang Februari tahun lalu yang hanya 4,31 persen. Begitu juga lulusan diploma mengalami peningkatan pengangguran dari 5,87 persen menjadi 7,49 persen. Serta pengangguran lulusan SMK yang bertambah dari 7,21 persen menjadi 9,05 persen.

Sementara untuk tingkat pendidikan SD, SMP, dan SMA mengalami penurunan, masing-masing yakni dari 3,69 persen menjadi 3,61 persen, 7,44 persen jadi 7,14 persen, dan 9,10 persen menjadi 8,17 persen.
Itu membuktikan bahwa dari tahun ke tahun mengalami peningkatan pengangguran khususnya lulusan S1.
kenapa pengangguran makin bertambah ? Alasannya karena kurangnya penyerapan tenaga kerja di Indonesia. Selain itu masyarakat Indonesia masih kurang membuka lahan lapangan kerja khususnya di Industri kreatif. 
Terlebih lagi, kita sudah memasuki kawasan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) sejak 31 Desember 2015. Ada 10 negara yang ikut MEA yakni Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, Vietnam, Brunei Darussalam, Kamboja, Laos, Myanmar dan yang terakhir negeri kami tercinta, Indonesia.
Indonesia yang akan menjadi salah satu pasar yang akan diincar sembilan negara tersebut. sebab Indonesia sudah dikenal dari berbagai negara bahwa negara ini mempunyai kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Manusia yang berlimpah.
Pemerintah pastinya sudah mengantisipasi dengan adanya memudahkan rakyatnya untuk mendirikan izin dagang dan pembangunan, memfokuskan pada industri kreatif. Yang paling vital, Pemerintah fokus pada transportasi.
Kita juga tidak bisa memberatkan seluruh tanggung jawab nasib kita terhadap pemerintah. Kita bisa melakukan sesuatu yang bisa menghasilkan uang melalui industri kreatif. contohnya menjadi seorang Youtuber, berdagang produk dan jasa melalui Tokopedia, Bukalapak atau OLX, dan salah satunya menulis di Blogger juga termasuk menghasilkan uang. Kalau tidak percaya, bisa mencari informasi itu melalui GOOGLE.


Semoga dengan keadaan Indonesia untuk saat ini, kita bisa bangkit dan membuktikkan kepada dunia bahwa negara kita bisa bangkit dari keterpurukan ekonomi.